Sabtu, 22 Agustus 2009

Posisi Bangsa Arab Dan Kaumnya

Pada hakikatnya Posisi Bangsa Arab Dan Kaumnya

Islah Sirah Nabawiyah merupakan ungkapan tentang risalah yang dibawa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wasallam kepada manusia, untuk mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya, dari 'ibadah kepada hamba menuju 'ibadah kepada Allah. Dan tidak mungkin bisa menghadirkan gambarannya yang amat menawan secara pas dan mengena kecuali setelah melakukan perbandingan antara latar belakang risalah ini (risalah Nabawiyyah) dan pengaruhnya. Berangkat dari sinilah kami merasa perlu mengemukakan fasal yang berbicara tentang kaum-kaum 'Arab dan perkembangannya sebelum Islam, serta tentang kondisi-kondisi saat Nabi Muhammad diutus.


Posisi Bangsa Arab


Menurut bahasa, 'Arab artinya padang pasir, tanah gundul dan gersang yang tiada air dan tanamannya. Sebutan dengan istilah ini sudah diberikan sejak dahulu kala kepada jazirah Arab, sebagaimana sebutan yang diberikan kepada suatu kaum yang disesuaikan dengan daerah tertentu, lalu mereka menjadikannya sebagai tempat tinggal.

Jazirah Arab dibatasi Laut Merah dan gurun Sinai di sebelah barat, di sebelah timur dibatasi teluk Arab dan sebagian besar negara Iraq bagian selatan, di sebelah selatan dibatasi laut Arab yang bersambung dengan lautan India dan di sebelah utara dibatasi negeri Syam dan sebagian kecil dari negara Iraq, sekalipun mungkin ada sedikit perbedaan dalam penentuan batasan ini. Luasnya membentang antara satu juta mil kali satu juta tiga ratus ribu mil.

Jazirah Arab memiliki peranan yang sangat besar karena letak geografisnya. Sedangkan dilihat dari kondisi internalnya, Jazirah Arab hanya dikelilingi gurun dan pasir di segala sudutnya. Karena kondisi seperti inilah yang membuat jazirah Arab seperti benteng pertahanan yang kokoh, yang tidak memperkenankan bangsa asing untuk menjajah, mencaplok dan menguasai Bangsa Arab. Oleh karena itu kita bisa melihat penduduk jazirah Arab yang hidup merdeka dan bebas dalam segala urusan semenjak zaman dahulu. Sekalipun begitu mereka tetap hidup berdampingan dengan dua imperium yang besar saat itu, yang serangannya tak mungkin bisa dihadang andaikan tidak ada benteng pertahanan yang kokoh seperti itu.


Sedangkan hubungannya dengan dunia luar, Jazirah Arab terletak di benua yang sudah dikenal semenjak dahulu kala, yang mempertautkan daratan dan lautan. Sebelah barat Laut merupakan pintu masuk ke benua Afrika, sebelah timur laut merupakan kunci untuk masuk ke benua Eropa dan sebelah timur merupakan pintu masuk bagi bangsa-bangsa non-Arab, timur tengah dan timur dekat, terus membentang ke India dan Cina. Setiap benua mempertemukan lautnya dengan Jazirah Arab dan setiap kapal laut yang berlayar tentu akan bersandar di ujungnya.


Karena letak geografisnya seperti itu pula, sebelah utara dan selatan dari jazirah Arab menjadi tempat berlabuh berbagai bangsa untuk saling tukar-menukar perniagaan, peradaban, agama dan seni.


Kaum-kaum Arab


Ditilik dari silsilah keturunan dan cikal-bakalnya, para sejarawan membagi kaum-kaum Arab menjadi tiga bagian, yaitu: Arab Bâ-idah, yaitu kaum-kaum Arab terdahulu yang sudah punah dan tidak mungkin sejarahnya bisa dilacak secara rinci dan komplit, seperti 'Ad, Tsamud, Thasm, Judais, 'Imlaq dan lain-lainnya.


Arab 'Aribah, yaitu kaum-kaum Arab yang berasal dari keturunan Ya'rib bin Yasyjub bin Qahthan, atau disebut pula Arab Qahthaniyah.


Arab Musta'ribah. yaitu kaum-kaum Arab yang berasal dari keturunan Isma'il, yang disebut pula Arab 'Adnaniyah.

Tempat kelahiran Arab '?Aribah atau kaum Qahthan adalah negeri Yaman, lalu berkembang menjadi beberapa kabilah dan suku, yang terkenal adalah dua kabilah:


Kabilah Himyar, yang terdiri dari beberapa suku terkenal, yaitu Zaid Al-Jumhur, Qudhâ'ah dan Sakâsik.

Kahlân, yang terdiri dari beberapa suku terkenal yaitu Hamadan, Anmar, Thayyi', Madzhaj, Kindah, Lakham, Judzam, Azd, Aus, Khazraj, anak keturunan Jafnah raja Syam dan lain-lainnya. Suku-suku Kahlân banyak yang hijrah meninggalkan Yaman, lalu menyebar ke berbagai penjuru Jazirah menjelang terjadinya banjir besar saat mereka mengalami kegagalan dalam perdagangan. Hal ini sebagai akibat dari tekanan Bangsa Romawi dan tindakan mereka menguasai jalur perdagangan laut dan setelah mereka menghancurkan jalur darat serta berhasil menguasai Mesir dan Syam, (dalam riwayat lain) dikatakan : bahwa mereka hijrah setelah terjadinya banjir besar tersebut.


Juga tidak menutup kemungkinan jika hal itu sebagai akibat dari persaingan antara suku-suku Kahlan dan suku-suku Himyar, yang berakhir dengan keluarnya suku-suku Himyar dan pindahnya suku-suku Kahlân.

Suku-Suku Kahlân yang berhijrah bisa dibagi menjadi empat golongan :



Azd ; Kehijrahan mereka langsung dipimpin oleh pemuka dan pemimpin mereka, 'Imran bin 'Amru Muzaiqiya'. Mereka berpindah-pindah di negeri Yaman dan mengirim para pemandu; lalu berjalan ke arah utara dan timur. Dan inilah rincian akhir tempat-tempat yang pernah mereka tinggali setelah perjalanan mereka tersebut : Tsa'labah bin Amru pindah dari al-Azd menuju Hijaz, lalu menetap diantara (tempat yang bernama) Tsa'labiyah dan Dzi Qar. Setelah anaknya besar dan kuat, dia pindah ke Madinah dan menetap disana. Dan diantara keturunan Tsa'labah ini adalah Aus dan Khazraj, yaitu dua orang anak dari Haritsah bin Tsa'labah.


Diantara keturunan mereka yang bernama Haritsah bin 'Amr (atau yang dikenal dengan Khuza'ah) dan anak keturunannya berpindah ke Hijaz, hingga mereka singgah di Murr azh-Zhahran, yang selanjutnya membuka tanah suci dan mendiami Makkah serta mengekstradisi penduduk aslinya, al-Jarahimah. Sedangkan 'Imran bin 'Amr singgah di Omman lalu bertempat tinggal di sana bersama anak-anak keturunannya, yang disebut Azd Omman, sedangkan kabilah-kabilah Nashr bin aI-Azd menetap di Tuhâmah, yang disebut Uzd Syanû-ah. Jafnah bin 'Amr pergi ke Syam dan menetap di sana bersama anak keturunannya. Dia dijuluki Bapak para raja al-Ghassâsinah, yang dinisbatkan kepada mata air di Hijaz, yang dikenal dengan nama Ghassân yang telah mereka singgahi sebelum akhimya pindah ke Syam.


Lakhm dan Judzam; mereka pindah ke bagian Timur dan Barat. Tokoh di kalangan mereka adalah Nashr bin Rabi'ah, pemimpin raja-raja Al-Manadzirah di Hirah.


Bani Thayyi' ; Mereka berpindah ke arah utara setelah perjalanan Azd hingga singgah di antara dua gunung; Aja dan Salma, dan akhirnya menetap di sana dan kedua gunung tersebut kemudian dekenal dengan dua gunungThayyi'.


Kindah; Mereka singgah di Bahrain, kemudian terpaksa meninggalkannya dan singgah di Hadhramaut. Namun nasib mereka tidak jauh berbeda dengan apa yang menimpa mereka saat berada di Bahrain, hingga mereka pindah lagi ke Najd. Di sana mereka mendirikan pemerintahan yang besar dan kuat. Tapi pemerintahan itu cepat berakhir tanpa meninggalkan bekas sedikitpun. Di sana ada satu kabilah Himyar yaitu Qudha'ah (meskipun masih diperselisihkan penisbatannya kepada Himyar)yang meninggalkan Yaman dan bermukim di daerah pedalaman as-Samawah, pinggiran Iraq.*


* Lihat rincian tentang kabilah-kabilah ini dan hijrahnya dalam buku-buku: "Nasab Ma'd wal Yaman al-Kabir", "Jamharatun Nasab", "al-'Iqdul Farid", "Qalaidul Jumman", "Nihayatul Arib", "Tarikh Ibni Khaldun", "Saba-ikuz Zahab" , dll. Dan terdapat perbedaan yang cukup mencolok dalam berbagai referensi sejarah dalam menetapkan periode hijrah-hijrah yang mereka lakukan dan sebab-sebabnya. Tapi setel·h mengamati secara cermat dari berbagai sudut pandang, maka kami telah menetapkan pendapat yang kami anggap kuat dalam bab ini berdasarkan dalil yang ada.

Adapun Arab Musta'ribah, mereka merupakan cikal bakal dari nenek moyang mereka yang tertua Ibrahim 'Alaihis-Salam, yang berasal dari negeri Iraq, dari sebuah kota yang disebut Ar, dan terletak di pinggir barat sungai Eufrat, berdekatan dengan Kufah. Cukup banyak upaya penggalian dan pengeboran yang dilakukan untuk mengungkap rincian yang mendetail tentang kota ini dan keluarga Nabi Ibrahim 'Alaihis Salam serta kondisi religius dan sosial yang ada di negeri itu.


Sudah diketahui bersama bahwa Ibrahim ' Alaihis Salam hijrah dari Iraq ke Hâran atau Hirran, termasuk pula ke Palestina, dan menjadikan negeri itu sebagai pijakan/markas dakwah beliau. Beliau banyak menyusuri pelosok negeri ini dan lainnya, dan beliau pernah sekali mengunjungi Mesir. Fir-'aun (sebutan bagi penguasa Mesir) kala itu berupaya untuk melakukan tipu daya dan niat buruk terhadap istri beliau, Sarah. Namun Allah membalas tipu dayanya (senjata makan tuan). Dan tersadarlah Fir'aun itu betapa kedekatan hubungan Sarah dengan Allah hingga akhirnya ia jadikan anaknya,**

Hajar sebagai abdinya (Sarah). Hal itu dia lakukan sebagai tanda pengakuannya terhadap keutamaannya, kemudian dia (Hajar) dikawinkan oleh Sarah dengan Ibrahim. Ibrahim Alaihis Salam kembali ke Palestina dan Allah menganugerahinya Isma'il dari Hajar. Sarah terbakar api cemburu. Dia memaksa Ibrahim untuk mengekstradisi Hajar dan putranya yang masih kecil, Isma'il. Maka beliau membawa keduanya ke Hijaz dan menempatkan mereka berdua di suatu lembah yang tiada ditumbuhi tanaman (gersang dan tandus) di sisi Baitul Haram, yang saat itu hanyalah berupa gunduka~gundukan tanah.


Rasa gundah mulai menggayuti pikiran Ibrahim, Beliau menoleh ke kiri dan kanan, lalu meletakkan mereka berdua di dalam tenda, diatas mata air zamzam, bagian atas masjid. Dan pada saat itu tak ada seorang pun yang tinggal di Makkah dan tidak ada mata air. Beliau meletakkan didekat mereka kantong kulit yang berisi kurma, dan wadah air. Setelah itu beliau kembali lagi ke Palestina. Berselang beberapa hari kemudian, bekal dan air pun habis. Sementara tidak ada mata air yang mengalir. Disana tiba-tiba mata air Zamzam memancar berkat karunia Allah, sehingga bisa menjadi sumber penghidupan bagi mereka berdua hingga batas waktu tertentu. Kisah mengenai hal ini sudah banyak diketahui secara lengkapnya.


** Menurut kisah yang sudah banyak dikenal, Hajar adalah seorang budak wanita. Tetapi seorang penulis kenamaan, al-'Allamah al-Qadhy Muhammad Sulaiman Al-Manshurfury telah melakukan penelitian secara seksama bahwa Hajar adalah seorang wanita merdeka, dan dia adalah putri Fir'aun sendiri. Lihat buku "Rahmatun lil'alamin, 2/3637 dan juga buku "Tarikh Ibni Khaldun", 2/1/77.


Suatu kabilah dari Yaman (Jurhum Kedua) datang setelah itu dan bermukim di Mekkah atas perkenan dari ibu Isma'il . Ada yang mengatakan, mereka sudah berada di sana sebelum itu, tepatnya di lembah-lembah di pinggir kota Makkah. Adapun riwayat Bukhari menegaskan bahwa mereka singgah di Mekkah setelah kedatangan Isma'il dan ibunya, sebelum Isma'il menginjak remaja. Mereka sudah biasa melewati lembah Makkah ini sebelum itu.


Dari waktu ke waktu Ibrahim datang ke Makkah untuk menjenguk keluarganya. Dalam hal ini tidak diketahui berapa kali kunjungan/perjalanan yang dilakukannya, Hanya saja menurut beberapa referensi sejarah yang dapat dipercaya, kunjungan itu dilakukan sebanyak empat kali. Allah telah menyebutkan di dalam Al-Qur'an, bahwa Dia Ta'ala memperlihatkan Ibrahim dalam mimpinya seolah-olah dia menyembelih anaknya, Isma'il. Maka beliau langsung melaksanakan perintah ini. Allah berfirman :


"Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim menbaringkan onaknya atar pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya). Dan, kami panggillah dia, 'Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah mrmbenarkan mimpi itu, sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar ujian yang nyata. Dan, Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. " (Ash-Shaffat: 103-107).

Didalam Kitab Kejadian disebutkan bahwa umur Isma'il selisih tiga belas tahun lebih tua dari Ishaq. Secara tekstual, kisah ini menunjukkan bahwa peristiwa itu tejadi sebelum kelahiran Ishaq sebab kabar gembira tentang kelahiran

Ishaq disampaikan setelah pengupasan kisah ini secara keseluruhan.

Setidak-tidaknya kisah ini mengandung satu kisah perjalanan sebelum Isma'il menginjak remaja. Sedangkan tiga kisah selanjutnya telah diriwayatkan oleh Imam Bukhari secara panjang lebar dari Ibnu 'Abbas secara marfu', yang intinya bahwa ketika remaja Isma'il dan belajar bahasa Arab dari kabilah Jurhum, mereka merasa tertarik kepadanya, lalu mereka mengawinkannya dengan salah seorang wanita golongan mereka dan saat itu ibu Isma'il sudah meninggal dunia.


Maka suatu saat Ibrahim hendak menjenguk keluarga yang ditinggalkannya setelah terjadinya pernikahan tersebut, beliau tidak mendapatkan Isma'il, lalu beliau bertanya kepada istrinya mengenai suaminya, Isma'il dan kondisi mereka berdua. Istri Isma'il mengeluhkan kehidupm mereka yang melarat. Maka Ibrahim menitip pesan agar suaminya nanti mengganti palang pintu rumahnya. Setelah diberitahu, Isma'il mengerti maksud pesan ayahnya. Maka Isma'il menceraikan istrinya itu dan kawin lagi dengan wanita lain, yaitu putri Madhdhadh bin 'Amr, pemimpin dan pemuka kabilah Jurhum menurut pendapat kebanyakan (sejarawan-pen).


Setelah perkawinan Isma'il yang kedua ini, Ibrahim datang lagi, namun tidak bertemu dengan Isma'il lalu akhirnya kembali ke Palestina setelah beliau menanyakan kepada istrinya tersebit tentang Isma'il dan kondisi mereka berdua, isterinya memuij kepada Allah (atas apa yang dianugerahkan kepada mereka berdua). Kemudian Ibrahim kembali menitip pesan lewat istri Isma'il, agar Isma'il memperkokoh palang pintu rumahnya. Pada kedatangan yang ketiga kalinya Ibrahim bisa bertemu dengan Isma'il, yang saat itu sedang meraut anak panahnya di bawah sebuah pohon di dekat zamzam.


Tatkala melihat kehadiran ayahnya, Isma'il berbuat sebagaimana layaknya seorang anak yang lama tidak bersua bapaknya, begitu juga dengan Ibrahim. Pertemuan ini terjadi setelah sekian lama yang sangat jarang dijumpai seorang ayah yang penuh rasa kasih sayang dan lemah lembut bisa menahan kesabaran untuk bersua anaknya, begitu pula dengan Isma'il, sebagai anak yang berbakti dan shalih. Dan kali ini mereka berdua membangun Ka'bah dan meninggikan pondasinya. Kemudian Ibrahim pun mengumumkan kepada khalayak agar melakukan haji sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah kepadanya.


Dari perkawinannya dengan putri Madhdhadh, Isma'il dikaruniai oleh Allah sebanyak dua belas orang anak yang semuanya laki-laki, yaitu: Nabat atau Nabayuth, Qidar, Adba-il, Mubsyam, Misyma', Duma, Misya, Hidad, Yatma, Yathur, Nafis dan Qaidaman. Dari mereka inilah kemudian berkembang menjadi dua belas kabilah, yang semuanya menetap di Mekkah untuk beberapa lama. Mata pencaharian mayoritas mereka adalah berdagang dari negeri Yaman ke negeri Syam dan Mesir. Selanjutnya kabilah-kabilah ini menyebar di berbaga i penjuru Jazirah, dan bahkan hingga keluar Jazirah, kemudian seiring dengan pejalanan waktu, keadaan mereka tidak lagi terdeteksi, kecuali anak keturunan Nabat dan Qidar.


Peradaban anak keturunan Nabat mengalami kemajuan di bagian utara Hijaz. Mereka mampu mendirikan pemerintahan yang kuat dan menguasai daerah-daerah di sekitarnya, dan menjadikan Al-Bathra' sebagai ibukotanya. Tak seorangpun yang mampu melawan mereka hingga datangnya pasukan Romawi yang berhasil melindas mereka. Sekelompok Peneliti berpendapat bahwa raja-raja keturunan keluarga besar Ghassan, termasuk juga kaum Anshor dari suku Aus dan Khazraj bukan berasal dari keturunan keluarga besar Qahthan, tetapi mereka adalah dari keturunan keluaraga besar Nabat, anak Isma'il dan sisa-sisa mereka masih berada di kawasan itu, dan pendapat ini diambil oleh Imam Bukhari sedangkan Imam Ibnu Hajar menguatkan pendapat yang mengatakan bahwa anak keturunan keluarga besar Qahthan adalah berasal dari keturunan keluarga besar Nabat.


Adapun anak keturunan Qidar bin Isma'il masih menetap di Makkah, beranak pinak di sana hingga menurunkan 'Adnan dan anaknya Ma'ad. Dari dialah orang-orang Arab Adnaniyah menisbatkan nasab mereka. Dan Adnan adalah nenek moyang kedua puluh satu dalam silsilah keturunan Nabi Shallallahu 'alaihi Wasallam. Diriwayatkan bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi Wasallam, jika beliau menyebutkan nasabnya dan sampai kepada Adnan, maka beliau berhenti dan bersabda, "Para ahli silsilah nasab banyak yang berdusta", lalu beliau tidak melanjutkannya. Segolongan ulama memperbolehkan mengangkat nasab dari Adnan ke atas dan melemahkan (mendho'ifkan) hadits yang mengisyaratkan hal itu (hadits yang disebut diatas). Menurut mereka berdasarkan penelitian yang detail; sesungguhnya antara Adnan dan Ibrahim 'Alaihis-Salam terdapat empat puluh keturunan.


Keturunan Ma'ad dari anaknya, Nizar telah berpencar kemana-mana (menurut suatu pendapat, Nizar adalah satu-satunya anak Ma'ad). Dan Nizar sendiri mempunyai empat orang anak, yang kemudian berkembang menjadi empat kabilah yang besar, yaitu: Iyad, Anmar, Rabi'ah dan Mudhar. Dua kabilah terakhir inilah yang paling banyak marga dan sukunya. Sedangkan dari Rabi'ah muncul Asad bin Rabi'ah, Anzah, Abdul-Qais, dua anak Wa-il ;Bakr dan Taghlib, Hanifah dan lain-lainnya.


Sedangkan kabilah Mudhar berkembang menjadi dua suku yang besar, yaitu Qais 'Ailan bin Mudhar dan marga-marga Ilyas bin Mudhar. Dan dari Qais 'Ailan muncul Bani Sulaim, Bani Hawazin, Bani Ghathafan. Kemudian dari Ghathafan muncul 'Abs, Dzibyan, Asyja' dan Ghany bin A'shar.


Dari Ilyas bin Mudhar muncul Tamim bin Murrah, Hudzail bin Mudrikah, Bani Asad bin Khuzaimah dan marga-marga Kinanah bin Khuzaimah. Dan dari Kinanah muncul Quraisy, yaitu anak keturunan Fihr bin Malik bin an-Nadhar bin Kinanah.

Quraisy terbagi menjadi beberapa kabilah, yang terkenal adalah Jumuh, Sahm, 'Udai, Makhzum, Tim, Zuhrah dan suku-suku Qushay bin Kilab, yaitu Abdud Dar bin Qushay, Asad bin Abdul 'Uzza bin Qushay dan Abdu Manaf bin Qushay.

Sedangkan Abdu Manaf mempunyai empat anak: Abdu Syams, Naufal, al-Muththalib dan Hasyim. Hasyim adalah keluarga yang dipilih oleh Allah yang diantaanya muncul Muhammad bin Abdullah bin Abdul-Muththalib bin Hasyim. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam pernah bersabda:


"Sesungguhnya Allah telah memilih isma'il dari anak keturunan Ibrahim, memilih Kinanah dari anak keturunan Isma'il, memilih Quraisy dari anak keturunan Bani Kinanah, memilih Bani Hasyim dari keturunan Quraisy dan memilihku dari keturuan Bani Hasyim. ".(H.R. Muslim dan at-Turmudzy).



Dari al-'Abbas bin Abdul Muththalib, dia berkata, "Rasulullah Shallallahu 'alaihi Wasallam bersabda:

"Sesungguhnya Allah menciptakan makhluk, lalu Dia menjadikanku dan sebaik-baik golongan mereka dan sebaik-baik dua golongan, kemudian memilih beberapa kabilah, lalu menjadikanku diantara sebaik-baik kabilah, kemudian memilih beberapa keluarga Ialu menjadikanku diantara sebaik-baik keluarga mereka, maka aku adalah sebaik-baik jiwa diantara mereka dan sebaik-baik keluarga diantara mereka". (Diriwayatkan oleh at-Turmudzy).


Setelah anak-anak 'Adnan beranak-pinak, mereka berpencar diberbagai tempat di penjuru jazirah Arab, menjelajahi tempat-tempat yang banyak curah hujannya dan ditumbuhi oleh tanaman.


Abdul Qais dan keturunan Bakr bin Wa-il serta keturunan Tamim pindah ke Bahrain dan menetap di sana. Sedangkan Bani Hanifah bin Sha'b bin Ali bin Bakr bergerak menuju Yamamah dan singgah di Hijr, ibukota Yamamah. Semua keluarga Bakr bin Wa-il menetap di berbagai penjuru tanah Jazirah, mulai dari Yamamah, Bahrain, Saif Kazhimah hingga mencapai laut, kemudian tanah kosong Iraq, al-Ablah hingga Haita.


Taghlib menetap di Jazirah dekat kawasan Eufrat, diantaranya terdapat suku-suku yang pernah hidup berdampingan dengan (kabilah) Bakr sedangkan Bani Tamim menetap di daerah pedalaman Bashrah. Bani Sulaim menetap dekat Madinah, dari Wadi al-Qura hingga ke Khaibar hingga bagian timur Madinah mencapai batas dua gunung hingga berakhir di kawasan pegungan Hurrah. Sementara Tsaqif menetap di Tha'if dan Hawazin di timur Makkah dipinggiran Authas yaitu dalam perjalanan antara Makkah dan Bashrah. Dan Bani Asad bermukim di timur Taima' dan barat Kufah. Mereka dan Taima' diantarai perkampungan Buhtur dari suku Thayyi'. Sedangkan masa perjalanan mereka dan Kufah ditempuh selama lima hari. Ada lagi suku Dzubyan yang bermukim di dekat Taima' menuju Huran. Di Tihamah tersisa beberapa suku-suku Kinanah, sedangkan di Makkah tinggal suku-suku Quraisy. Mereka berpencar-pencar dan tidak ada sesuatupun yang bisa menghimpun mereka, hingga muncul Qushay bin Kilab. Dialah yang menyatukan mereka dan membentuk satu kesatuan yang bisa mengangkat kedudukan dan martabat mereka.

With Khadijah.

Muhammad described as by a have posture. Its not small and is not big. Its black hair wavy with wide sideburns. Its black eye, its visage like always gaze. He fond of also berhumor, but have never chortle making its molar see. He also have never blow top. Its enragement only seen at serious face and also sweat the so small in forehead. considered by This Muhammad of Khadijah as its husband

That moment of Khadijah Binti Khuwailid have age to 40 year - 15 compared to older year of Muhammad. He is entrepreneur distinguish for in Mekah. Its Business reach region of Syria - area becoming intersection between " Band Silk" Cina-Eropa with band of Syria-Yaman. He is beautiful, soft but very respected by its society. People Mekah nicknaming him as " Ath-Thahirah" ( a is holy) and " Sayyidatul Quraish" ( respectable girl of Quraish)." Khadijah and of Muhammad both of the same clan of Qushay

Last Khadijah submit desire menikah the at Muhammad, passing Nufaisa - its friend. Muhammad have time to acrophobia. He have no something to menikah. But family both parties support them. With dowry 20 camel, Muhammad do Khadijah marry. Uncle of Khadijah, Umar Bin Asad become cause sponsor of Khuwailid have died is prewar of Fijar. Muhammad later;then live in house of Khadijah

Their peaceful and peaceful family. At its age which spelled out members is old, Khadijah still bear six child. Two first child, Qasim and of Abdullah die small whilst. four of Putri their grow till adult. Zainab which is eldest child married with keponakan of Khadijah, Abul'Ash Bin Rabi'. Ruqaya and of Ummi Khulthum married with Dusty putra kakak-adik of Lahab, uncle of Muhammad, namely Uthba' and Uthaiba. After Islam teaching go down, Ash of Lahab ask its childs divorce children of Muhammad. Later they menikah with Khalifah Usman Affan bin, originally Ruqaya which later;then pass away, then Ummi Khulthum. The is youngest of Fatimah still is small. After a period of Islam, Fatimah married with Ali

Attention of couple of Muhammad-Khadijah not merely thinking of its own family, but also others. Each;Every season of paceklik arrive, Halimah - Ms. milk of Muhammad-Selalu come have recourseing. They will supply to come home Halimah with water and also transported by food materials is camel to fulfill requirement of its countryside citizen. They also help Ash of Thalib of its poorness. For that, Muhammad meet its rich uncle of Abbas to take one of the Dusty child [of] Thalib, Ja'Far, while family of Muhammad take care of other child, Ali

Muhammad get big respect of moment renovate Ka'Bah. That Moment of Ka'Bah have is barst. Its location in hilly hollow of stone, making Ka'Bah always become floods target in the rains. Society mean to develop;build newly Ka'Bah, but do not a even also dare to start toppling [him/ it]. After delaying some llama, Bin Mughirah Walid made bold to to start that crushing. Ka'Bah rebuilt till as high as 18 cubic or [about/around] 11 metre. Its door is heightened from land;ground so that is peaceful the than floods. Six in line pillar three stuck into

For that development, citizen Mekah buy wood property of merchant of Romawi Baqum which is its ship break at elbow Jeddah. Baqum even ready to assist that development if/when consorted by Kopti - carpenter Mekah. Work go well. Hubal, biggest arca, have been included into Ka'Bah. But, later;then emerge problem, namely to place To rough up Aswad. All kabilah wish to get that honour. Family of Abdud-Dar and Adi even have sworn out blood to attack any person who will take that duty

Eldest people and respected by among them, Dusty of Ummayah Bin Mughira of Bani Makhzum, proposing. Location business Rough up Aswad to be delivered at first person which step into door of Shafa. Whoever he/she is. That man in the reality Muhammad Al-Amien

wisely, Muhammad entangle all family to put down that black stone. Its way: he unfold cloth. All leader of family please of holding cloth periphery. Muhammad lift that stone to of cloth, last all by together stone mengotong, later;then Muhammad again lift and putting down at its place of him. All satisfying

Kamis, 20 Agustus 2009

From Shepherd to Manager

In respectable family tradition of Arab a period of that, baby do not suckle by xself by The Mother. He is delivered at others becoming Ms. milk. That way also Muhammad. Few days, he is suckled by Tsuaiba - uncle slave of Muhammad, Dusty of Lahab, what also is suckling Hamzah - other uncle which is age of Muhammad. Later;Then he is delivered at Halimah, impecunious woman of Bani Saad which searching work as Ms. milk

Initialy Halimah refuse Muhammad. He wish baby which non a orphan, and his family ready to overpay costlyly. Nothing;There is no other baby which can suckle, Halimah even also bring Muhammad to its kampong. Countrified atmosphere of Bani Saad referred as better to growth of child compared to ' town' Mekah. Air is over there referred as is cleaner, Ianguage of Arab-Nya even also more original. In a period of with Halimah that's geting about story concerning small Muhammad

According to that story, Halimah meet Muhammad in a state of turning pale. Please mention that Muhammad just visited [by] two people - believed by many circle as angel. The people later;then split chest of Muhammad. Many people Trust, that is angel process " cleaning liver of Muhammad'' so that cleanness

At]age five year, Muhammad returned to Mekah. It is said Halimah worry of safety of Muhammad. On the way to Mekah, Muhammad have time to separated from Halimah and being lost before found not intentionally by one who later;then send to house of Abdul Muthalib. Moment of Muhammad have age to six year, Aminah of[is the mother bring him to Madinah behold mausoleum and family of Abdullah, the father. They are accompanied by slave of Abdullah, Your of Aiman, pass through over about 600 km with trade caravan going to Syam

Moment come home, having arrived at Abwa - 37 km of Madinah-Aminah fall sick and die. Muhammad even also orphan. He is looked after by Abdul Muthalib. But, the grandfather also die moment of Muhammad have age to 8 year. Last Muhammad live in Dusty house of Thalib - youngest child of Abdul Muthalib which is impecunious life. Everyday life of Muhammad is to goat shepherd. At age 12 year, Muhammad invited by His uncle trade to Syam

Story, on the way that is Dusty of Thalib meet priest of so called Nasrani of Buhaira in Bushra. The priest inform that Muhammad will become big Prophet. Hence, he suggest Ash of Thalib immediately bring to go home Muhammad in order not to be fatal process the act of distaste people who. Journey to foreign country for have business to age as young as that of course make an impression on strength at Muhammad

Blessing Integrity and straightness of his liver, Adolescent Muhammad get the naming of Al-Amien, " which can trusted", from people Mekah. He also mentioned over and over protected from various immorality form which is acap arise from party. Each time will witness party with its closed friends, Muhammad always fall asleep. While intellectual durability and also it him sharpened to pass His hobby listen all poet

At holy months, in some place at elbow Mekah, always emerge market. Especially in Ukaz residing in [among/between] Thaif and of Nakhla, and also in Majanna and of Dzul-Majaz. In market day, all poet read off its rhymes. Some of that poet believe in Nasrani and also Jew. They generally land on Arab nation curtseying fetish. The event add critical attitude of Muhammad of behavior of its society

Problem of market in that Ukaz drag Muhammad at human being realita: war. Early from collision of agreement conducted by trade system is Barradz Qais bin of Kinana kabilah which triggering similar collision ' Bin Urwa ' Uthba of Hawazin kabilah. Last Barradz kill ' illicit Holy Urwa in happened bloodbath. last Kabilah Hawazin bear arms to Kinana kabilah. Because consanquinity, clan of Quraish like Muhammad advocate Kinana kabilah

During four year, encounter take place at certain days every year. That happened moment of Muhammad have age to around 16 till 20 year. Mentioned also, in that encounter of Muhammad only undertaking to collect opponent dart. There is also mentioning he/she have opponent. Fight that Fijar even also end in agreement of peace

One important event which is story seldom is to joining it of Muhammad at Movement of Hilfil Fudzul. A movement to fight against kesewenangan in society and protect which is maltreated. That event [is] triggered by hijack of goods property of foreign merchant arriving at Mekah by Wail Ash bin. Zubair Bin Abdul Muthalib invite family of Hasyim, Zuhra and of Taym to uphold again honour of town Mekah. They swear at home Abdullah Jud'An bin to form the movement. At age 20-an year, Active Muhammad in that Hilfil Fudzul. He follow to save girl of kidnaped by Bani Khais'Am [is] Nabih Hajaj bin and kith


Maturity of Muhammad progressively grow along with the increasing of age. Moment of Muhammad have age to 25 year, Dusty of Thalib see opportunity of[is effort to him. He know richest entrepreneur in Mekah that moment, Khadijah, middle look for manager to its business expedition team to Syam. Khadijah offer salary in the form of two heads young camel to that manager. Of Muhammad sepersetujuan, Dusty of Thalib meet Khadijah ask the the work make him and also ask salary boosted up to become four camel tail. Khadijah agree

For the first time of Muhammad lead caravan, or trade mission, fringing especial trade route of Yaman - Syam [pass/through] Madyan, Wadil Qura and many other place which have gone through of small moment. In that caravan of Muhammad assisted by woman of slave of Khadijah, Maisarah. Business of outstanding success. Informed by team trade Muhammad advantage meraup which have never can be reached for by previous trade missions. On the way, he also many have interaction to with other nations. Including all priest of Jew and also of Nasrani which continue to teach singleness of Allah. Muhammad also progressively comprehend global political konstalasi, including concerning domination of Romawi and also resistance of Persian


Khadijah impress of efficacy of Muhammad. Report of Maisarah strengthen the impression. Hence, seed love slow to even also spring in richest entrepreneur liver in Mekah which is that widow life

Before Birth

Muhammad is clan of Prophet of Ismail - prophet by 12 boys becoming nation router will Arab. All ancestors of Muhammad is custodian of Baitullah at the same time leader of society in Mekah, place becoming the target of Arab nation from various angle for have pilgrimage to one year once. Pilgrimage tradition which now, in a period of Islam, becoming religious service of haji. One of the uppermost is Qusay which is life about fifth century of Masehi
Duty of Qusay as custodian of ka'bah is to hold key (' hijabah'), lifting war lord by giving holded symbol flag it (' liwa'), accepting guest (' wifadah') and also provide to drink to all visitors (' siqayah)

When continuing age, Qusay deliver that respectable mandate at eldest child of him, Abdud-Dar. But child both, Abdul Manaf, more respected by citizen. Child of Abdul Manaf is Muthalib, and also the twin of siam Hasyim and of Abdu Syam which must be disjointed with knife. blood of Tumpah their dissociation moment, is believed by Arab people as forerunner of clan of them will have foe

Children of Abdul Manaf try to grab rights take care of Baitullah of children of Abdud-Dar less authoritative in society. Conflict of weapon almost happened. Compromise agreed on is. Half of rights, namely accept guest and provide to drink, to be passed to children of Abdul Manaf. trusted Hasyim hold the commendation

Child of Abdu Syam, Umayah, trying to grab that mandate. Judge decide that the rights remain to at Hasyim. Umayah, according to agreement, forced to leave Mother. Clan of Umayah - like Ash of Sofyan and also of Muawiyah- later inimical it is true with clan of Hasyim

Last Hasyim do Salma Amr binti marry of Bani Khazraj - woman very respectable in Yatsrib or of Madinah. They is Syaibah berputra ( meaning grizzle) which in a period of is old of him known as [by] Abdul Muthalib - grandfather of Muhammad. This is strong tying [of] Muhammad with Madinah, selected town it as place migrate moment got across by citizen Mekah. Syaibah live in Madinah until Muthalib - replacing Hasyim because its it[him] to be brought to Mekah. Citizen Mekah have time to suspect Syaibah as slave of Muthalib, hence he [is] called with the title Abdul Muthalib

Abdul Muthalib inherit honour take care of Baitullah and lead its society. Its name progressively boost after he and its child, Harits, success unearth again Sacred water at Mecca mosque well which have old lose. But he also have time to do fatally: promising to to sacrifice (slaughtering) its child when he is bestowed by 10 child. So have 10 child, hence he will execute its promise. its Ten child name [of] ballot him (' kidah') in front of Hubal arca. Abdullah - father of Muhammad-Yang chosen

Society oppose plan of Abdul Muthalib. They suggest him to be contacting woman of clairvoyant. The clairvoyant say that sacrifice may change with camel so long as name of and camel of Abdullah balloted. Originally ten allowed the release of camel. But remain to chosen Abdullah by toss. Amount of camel continue to be added by ten for the shake of ten. Newly after one hundred camel, secretory camel in toss, though that repeated by thrice. Safe Abdullah

Big Event that happened in a period of Abdul Muthalib is plan crushing of Ka'Bah. A Monarchic war lord of Habsyi ( nowadays Ethiopia) what believe in Nasrani, Abrahah, lifting x'self as Governor of Yaman after he break Empire of Jew in that region. He annoyed with reputation Mekah becoming Arab people pilgrimage place. He develop;build luxury and new Ka'Bah in Yaman, and also will break Ka'Bah in Mekah. Abrahah conscript its elephant team to invade Mekah

Coming near Mekah, its ministrant Abrahah Duty - Hunata-Untuk meet Abdul Muthalib. Hunata and of Abdul Muthalib meet Abrahah promising will not bother citizen if/when them let to break Baitullah. Abdul Muthalib surrenderness. Before crushing of Ka'Bah happened by the debacle. Qur'an mention event defeating Abrahah and his team in Letter of Al-Fil. " And Him send over them " Toiron Ababil", pelting them with stones of cadas burnt, hence Him make them as wormeaten leaf

Public opinion mention " Toiron Ababil" as " Bird of Ababil" or " Bird which in large numbers". Book " History Live Muhammad" written by Muhammad Husain Haekal tell him as smallpox germ epidemic ( possible its intention of Pestilence epidemic or of Anthrax - similar disease which defeat one-third Europe citizen and Mid-East in] century 14). But there is also analysis mentioning that yrs. It is true happened meteor rain - hot hail which each other falling or ' fly' from sky. Wallahua'Lam. Definitive a period of the known as by Year Elephant which also represent year birth of Muhammad
During the period, Abdullah, son of Abdul Muthalib have married Aminah. He later;then go to have business to Syria. Inbound, Abdullah fall sick and die in Madinah. Muhammad born after its father die. Its birthday is opposed to people. But, opinion of Ibn Ishaq and kith which at most believed by society: namely that Muhammad borne at 12 Rabiul Early. Orientalis Caussin Perceval de in ' Sur L'Histoire Arabes des Essai' cited by Haekal mention a period of birth of Muhammad is August 570 Masehi. He is borne at home its grandfather - place which nowadays do not far from Al Haram Mosque.

That Baby is brought by Abdul Muthalib forwards Ka'Bah and called by Muhammad meaning " praised". A[N name of unorthodox during the period. It is said, Abdul Muthalib have time to will give the name of that baby of Qustam - similar is name of its child which have died. But Aminah - pursuant to ilham-hoping that name of Muhammad.